About Me

header ads

Ulas Buku Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad SAW




Semacam Resensi

Judul Buku       : Sejarah Otentik Politik Nabi Muhammad SAW
Penulis             : Prof. Dr. Husain Mu’nis
Penerbit           : Pustaka Iman, Jakarta: 2019

“Kafilah besar bernama umat Islam kini tersesat hilang arah. Akibatnya jalan lurus ke tujuan tidak terlalui dan sudah pasti tidak sampai tujuan yang dimaksudkan Nabi Muhammad SAW. Gagallah umat ini sampai pada kehidupan masyarakat yang penuh dengan keadilan, keamanan, kedamaian, dan kesejahteraan.” (Hal. 68) Demikian pendapat Husain Mu’nis dalam buku ini. Sebuah pendapat yang didasarkan pada kenyataan bagaimana kondisi umat Islam di muka bumi ini.

Umat ini sudah dan sedang tidak baik-baik saja. Jelas percekcokan terus terjadi, dan pertumpahan darah di banyak tempat tak terhindarkan baik dengan non muslim atau sesama muslim telah berlangsung sekian lamanya dan entah sampai kapan berhenti. Tentu keamanan dan kesejahteraan tidak terpenuhi di daerah konflik berdarah. Di luar itu, banyak umat ini tinggal di negara-negara dunia ketiga dengan problem kemiskinan yang mendera.

Tampaknya penulis ingin menyentuh kesadaran kaum muslim bahwa kenyataan pahit adalah ganjaran dari Allah di dunia ini. Ganjaran yang nanti juga akan didapatkan di akhirat sebab siapapun akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Maha Adil, hakim final Yang Maha Benar. Akibat terjadi karena adanya sebab. Dan kondisi umat yang demikian adalah akibat dari ketersesatan.

Buku ini menjelaskan betapa era awal Madinah adalah contoh kehidupan yang benar. Kehidupan masyarakat berpegang kepada tali Allah dan tidak berpecah belah. Tali (habl ) adalah perjanjian yang mengikat. Baiat aqabah II adalah fondasi awal membangun ummat. Ketika tidak berpegang pada tali itu maka berbagai musibah menimpa umat ini.

Umat Islam dinilai gagal membawa misi risalah rahmatan lil alamin, padahal menurut Mu’nis, masyarakat mana pun, peradaban kapan pun, serta latar belakang kebudayaan apa pun akan selalu menerima dengan lapang hati nilai-nilai universal dalam Jalan Kenabian Muhammad SAW., yakni: kedaulatan, independensi, penyucian jiwa, kebijaksanaan, kejujuran, dan kasih sayang serta nilai-nilai kebebasan, saling menghargai, dan mengedepankan musyawarah. (Hal. 26).

Sebagai sejarawan, Mu’nis ingin menyajikan refleksi bahwa di setiap generasi umat Islam selalu ada orang saleh dan jahat. Tidak benar kalau generasi awal layak disebut generasi shaleh sementara yang belakangan tidak. Bahkan jelas sekali Al-Quran mendokumentasikan betapa orang-orang gurun itu tega menyakiti Yang Mulia Nabi (Q.S.At-Taubah:61-62)” (Hal.75).

Fakta-fakta menyebutkan betapa banyak ulama, sebagai ahli ilmu yang mestinya menjaga kebenaran, harus tunduk menjadi penyokong penguasa yang lalim. Para ahli fiqih dalam sejarah banyak yang tidak bisa berbuat banyak selain sebagai penganjur kebaikan tanpa ada kuasa mengubah keadaan. Dan ketika ada orang-orang yang ingin merubah keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan spirit Islam maka penguasa akan meminggirkannya. Orang-orang yang disebut khawarij menurut Mu’nis justru adalah dawakhhil (orang-orang yang masuk ke dalam agama), karena mereka menyuarakan kebenaran. Kaum dawakhil dimusuhi oleh para khalifah karena berusaha mengubah nasihat menjadi tuntunan, dan tuntunan diubah menjadi perintah kepada penguasa.

Analisis Mu’nis mengatakan, orang “khawarij” justru yang benar karena memegang prinsip Islam yang dahulu dan menolak khilafah-mulk atau kekhalifahan-kerajaan. Kekuasaan yang mengandalkan kekuatan dan kesewenang-wenangan hanya akan mengembalikan Islam kepada sistem-sistem jahiliah. Yang harus dilakukan adalah berpegang kepada musyawarah dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. (Hal.105).

Musyawarah adalah perintah Allah. Tidak ada bedanya dengan perintah yang lain, harus dilaksanakan. Q.S. 3:159. Rasulullah meminta para utusan Madinah agar memilih sendiri 12 orang pemimpin yang mewakili mereka dalam bermusyawarah. Inilah fondasi pembangunan umat Islam. (Hal. 114). Musyawarah menjadi pembeda dengan pemimpin-pemimpin padang gurun sebelumnya.

Nabi benar-benar menjadikan dirinya sebagai teladan. Ikut mengangkat batu saat membangun masjid, maju ke medan perang, mencuci pakaiannya sendiri. Beliau seorang pendengar yang baik, sangat pemaaf, santun, tidak pernah meninggikan suara kepada orang sekitar, mengedepankan kasih sayang, dan sebagainya. Dan keteladanan yang baik adalah pendidikan terbaik sebab dengannya nurani dibangkitkan. Ketika nurani kolektif telah dibangkitkan, maka akan menjadi pijakan dan jalan dalam hidupnya. Ajaran Al-Quran seluruhnya dan Islam semuanya bertujuan membangkitkan nurani. Nurani yang hidup akan membuka jalan kepada Allah dan ke berbagai keutamaan. Sebab jika nurani atau qalbu mati, tidak akan bisa memperbaikai apa pun dan bahkan tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara keluhuran dan kehinaan. (Hal.165-166).

Seandainya umat Islam telah beriman dengan sesungguhnya dari generasi ke generasi, maka tidak akan lenyap keberkahan iman. Jika keimanan benar-benar tertancap di diri umat, maka pasti sekarang umat Islam menjadi umat terkaya dan terbaik. (Hal.169).

Bagi Mun’im, iman sangatlah penting. Dalam piagam Madinah jelas ada dua macam istilah pengikut Nabi, yakni mukmin (orang beriman) dan muslim (orang yang tunduk). Pada saat itu banyak warga Madinah yang “menerima” Nabi dan para sahabat tetapi belum iman atau percaya sungguh-sungguh terhadap Nabi dan ideologi Islam. Karenanya kemudian, bahkan orang yang mengaku beriman pun pada akhirnya teruji oleh apakah ia mau berjihad harta dan jiwa atau tidak. Selama tidak mau melakukan dua pengorbanan itu, maka tidak bisa disebut sebagai mukmin sejati.

Terkait politik, Mun’im menyayangkan kebanyakan pemikiran politik Islam terbatas pada topik “kekhilafahan-kerajaan”. Baginya tidak penting bentuk formalnya; khilafah, keamiran, kerajaan, atau bentuk lain, yang lebih penting adalah umat yang merdeka, terhormat, beriman, dan bersatu atas dasar-dasar dan tujuan yang digali dari Al-Quran. Bagaimana menginternalisasi Al-Quran dalam diri dan menyerap Sunnah dalam diri dan semangat kita, itulah yang mendasar dan sangat penting. Bukan disibukkan dengan panji-panji dan simbol. (Hal.193).

Contoh dalam hal persatuan, di Piagam Madinah Pasal 1 menegaskan, “Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komunitas) manusia lain.” Ini adalah loncatan sejarah. Mereka melampaui batas-batas kabilah dan fanatisme yang ada saat itu. (Hal.237) Iman mempersatukan mereka, bersama-sama berjuang mewujudkan kehidupan dunia yang diridai Allah. Dan takwa, menjadi satu-satunya ukuran. Ketakwaan adalah induk berbagai keutamaan, dan puncak kebijaksanaan adalah takwa kepada Allah. (Hal.239).

Komunitas yang dibentuk Nabi adalah ummah, umat Islam, bukan dawlah atau negara Islam. Yakni umat yang mengedepankan nurani, menjunjung tinggi hati dan kemanusiaan. Umat selalu ada tapi negara adalah sesuatu yang berubah, berganti, dan berlalu. (Hal.284) Adapun jika dibandingkan dengan negara modern sekarang, menurut Mun’im apa yang dibentuh oleh Nabi dan sahabatnya adalah negara federasi seperti dipraktekkan oleh Swiss. Sayangnya penguasa Islam banyak yang berlindung di balik jubah  khalifah tetapi prakteknya adalah raja.(Hal.244)

Dan lagi, raja-raja yang berkuasa didukung oleh ulama. Kondisi tersebut membuat ummat melenceng dari Al-Quran. Sebagai contoh adalah hukuman mati bagi yang sengaja membunuh mukmin tanpa alasan yang dibenarkan. Ulama terkenal Ibnu Katsir membuat tafsiran bahwa hukumannya diserahkan kepada Imam dan tak seorang pun berhak membunuhnya. Bahkan lebih jauh Ibnu Katsir berkata, pembunuh memiliki hak bertobat.” Padahal jelas, Al-Quran meneruskan hukum Taurat bahwa nyawa dibayar nyawa, dengan penambahan pengecualian jika ahli waris memaafkan pembunuh tidak dihukum mati tapi harus membayar diat. Bagi Mun’im keringanan ini adalah untuk menjastifikasi kriminalitas para penguasa ketika itu. (Hal.270-272).  

Demikianlah. Sejarah sudah terjadi dengan kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Ke depan kita punya kesempatan untuk hidup berdasarkan Al-Quran dan Sunnah.

Pesan penting penulis buku ini : Menyadari kesesatannya sikap kafilah yang benar adalah kembali ke titik awal dan memulai perjalanan yang baru.



Posting Komentar

0 Komentar