About Me

header ads

Hei Indonesiaku: Apa Kabar SPI




Adalah Serikat Pengamen Indonesia yang pada jaman doeloe sering konser di Titik Nol Yogyakarta. Saya sendiri menyaksikan pertama kali penampilan mereka di forum Maiyahan bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng sekitar tahun ’90-an.  Dan yang paling berkesan adalah mereka menyanyikan lagu Hei Indonesiaku yang dirubah menjadi sebuah kritik atau satire sekaligus lucu dan membuat penontonnya tertawa.  

Lagu yang dipopulerkan penyanyi cilik Eno Lerian itu aslinya kira-kira sebagai berikut:
….
Hei Indonesiaku
Tanah subur rakyat makmur
Hai Indonesiaku
Aku (Enno) sayang kepadamu
Tanam salak tumbuh salak
Tanam duren tumbuh duren
Tanam padi (budi) tumbuh padi (ilmu)

Masih dengan nada yang sama, SPI merubah liriknya menjadi lagu dewasa:

“ingin makan uang rakyat (banyak)
bukan berarti harus me (masak)
cukup dengan korupsi
semua terpenuhi,kita tinggal menikmati
ingin gusur sawah rakyat (desa)
bukan berarti harus ke (desa)
cukup dengan kolusi semua terpenuhi
kita tinggal menikmati

hey indonesiaku (hey indonesiaku)
tanah subur rakyat nganggur (tanah subur rakyat nganggur)
hey indonesiaku(hey indonesiaku)
sawah rakyat kamu gusur (sawah rakyat kamu gusur)
tanam padi tumbuh pabrik
tanam jagung tumbuh gedung
tanam modal tumbuh korupsi
tanam cinta tumbuh aborsi
tanam demonstran rumbuh TNI

Kreatifitas komunitas pengamen SPI tentu patut diapresiasi. Mereka adalah bagian dari pemilik sah negeri ini yang mungkin “kurang beruntung” dibanding aktifis partai yang lolos jadi pejabat, atau para sarjana yang berhasil duduk di kursi empuk perusahaan besar bergaji tinggi. Yang tidak lolos dan masuk rumah sakit jiwa, atau yang nganggur dan tetap mengandalkan ijasah sampai tua, tentu tidak kalah “kurang beruntung”.

Mereka memang tidak bisa berbuat apa-apa selain menyumbang apa yang bisa. Mengajak pendengar menertawakan kepahitan dan anomali di tanah kelahiran sendiri. Sekaligus menjadi sarana menjaga kewarasan.

Terkadang orang harus berkomentar sedih, bahwa ada sebuah lembaga besar yang “terpaksa” didirikan dan disepakati bersama tapi berbuah hasil yang tidak diinginkan, yakni tumbuh suburnya kerakusan dan kejahatan. Suatu paradok yang menyeramkan. Revolusi Perancis menjadi obat kebosanan pada sistem kerajaan di mana para penguasanya hanya terdiri dari darah biru. Lalu negara-negara lain juga mengubah diri menjadi demokrasi. Tetapi apakah kemudian rakyat bisa berkuasa? Ternyata penguasanya adalah darah biru dalam bentuk lain dengan semakin banyak dinasti.

Sebenarnya apakah penting bagi rakyat bentuk pemerintahan atau sistem politiknya? Pada akhirnya rakyat hanya ingin kemanusiaan yang adil dan beradab, ingin keadilan sosial bagi seluruh penghuni, ingin hidup damai, sejahtera, dan seterusnya. Hanya! 

Ketika cita-cita bersama tidak kunjung tercapai setelah lebih dari setengah abad merdeka, kegelisahan terus bermunculan di mana-mana termasuk pada para pengamen jalanan. Berbeda dengan parlemen jalanan yang ketika teriakannya “membuahkan hasil” kemudian menjadi bagian dari darah biru yang berkuasa, hidup enak dan tinggal membela sang Tuan. Pengamen jalanan kecil peluang untuk masuk ke lingkungan istana-istana baik di tingkat pusat hingga daerah terpencil sekalipun.

Entah apa yang membuat SPI kini tak berdendang lagi. Apa jangan-jangan diluar dugaan kita, mereka sudah diakomokasi oleh kalangan darah biru itu? Tapi tak kunjung terdengar kabarnya.

Sahdan. Pada awal tahun 2020 ini rasanya lagu SPI itu perlu ditambah biar mantap:
Hey Indonesiaku
Tanam Asuransi tumbuh korupsi
Tanam pemilu tumbuh manipulasi
Tanam hutan tumbuh tambang
Tanam demokrasi tumbuh oligarkhi
Kirim mahasiswa tumbuh sodomi

Hey SPI. Ada banyak lirik konyol yang bisa didendangkan sebagai pelipur lara & bahan tawa.
Hey SPI dimanakah satire kalian disembunyikan….Apa kabar kalian?


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Like deh buat lagunya.. bener bener Indonesia banget hahahaha

    BalasHapus