About Me

header ads

Corona dan Skenario Tuhan



Saat ini kita sedang diperlihatkan Tuhan bagaimana Dia sedang menjalankan kehendak dan rencana-Nya untuk melakukan penataan ulang terhadap ciptaannya. Setelah sekian lama ditempati dan dikelola oleh makhluk bernama manusia, bumi ini mengalami kerusakan parah. Lihatlah polusi yang sedemikian parahnya memenuhi tanah, air dan udara di sekitar kita. Hutan-hutan dan ruang-ruang hijau habis dibabat, penambangan secara masif dilakukan gila-gilaan sehingga terjadi kerusakan lingkungan yang sedemikian parah seperti bencana banjir, tanah longsor dan bencana-bencana lainnya. Angin Puting Beliung, gempa bumi, gunung meletus, kemarau panjang dan hujan tak berkesudahan, semua itu bukan terjadi begitu saja, tetapi merupakan bagian dari rangkaian hukum sebab akibat: keseimbangan bumi terganggu.

Selain pada alam materi, kerusakan juga terjadi di kehidupan psikososial manusia. Terjadi ketidakseimbangan yang sangat kasat mata bagaimana kehidupan sosial dan ekonomi berlangsung. Distance / jarak strata sosial dan ekonomi antara si kaya dan si miskin demikian renggang yang terjadi akibat manusia menata kehidupan tidak berdasarkan tatanan baku yang sudah ditetapkan-Nya.

Tuhan menciptakan bumi dan seisinya ibarat pabrik menciptakan komputer/gadget. Arsitektur hardware dan software sudah didesain sedemikian rupa agar bisa digunakan secara baik dan minim kendala. Pabrik sudah menentukan software seperti apa yang kompatibel untuk diinstall di komputer/gadget yang telah diciptakannya. Namun setelah sekian lama makhluk bernama manusia ini menempati bumi, ternyata mereka telah mengelolanya berdasarkan tatanan / sistem aturan yang mereka buat sendiri. Padahal Tuhan menyediakan bumi dan seisinya, disertakan pula seperangkat aturan hidup yang sesuai dengan alam ini agar tidak merusak keseimbangan. Ibarat kita pinjami komputer/gadget, lalu kita menginstall software-software modifikasi rekayasa kita yang tidak sesuai dengan desain pabrik, maka akan terjadilah kerusakan pada komputer/gadget kita. Itu pula yang terjadi di bumi saat ini. Seperangkat aturan yang sudah disediakan-Nya untuk digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari telah digantikan aturan-aturan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Seperangkat aturan itu diantaranya berisi nilai-nilai dasar hukum dan ekonomi.

Lihatlah akibat penyimpangan dari aturan yang telah tuhan tetapkan, terjadi kerusakan ekonomi luar biasa. Lalu akibat penyimpangan hukum-hukum-Nya, terjadi pula kemrosotan moral yang sangat menyedihkan dan terjadi rentetan penyimpangan-penyimpangan di segala lini kehidupan lainnya sehingga menimbulkan kesengsaraan hidup banyak manusia. Semua ini jauh sekali dari konsep dasar Tuhan menciptakan alam ini dengan arah kehidupan yang dipenuhi dengan kedamaian dan kesejahteraan.

Tentu Jika kondisinya sudah seperti itu maka Sang Pemilik bumi ini tidak akan membiarkan sampai batas waktu tertentu, karena Dia yang menciptakan, Dia pulalah yang akan merawatnya ketika terjadi kerusakan. Dia akan turun tangan untuk melakukan perbaikan pada ciptaannya. Tanda-tanda yang ada di kitab-kitab suci maupun pada tulisan-tulisan orang-orang bijak dari para leluhur kita tidak menunjukkan akan adanya kehancuran total pada bumi dan seisinya. Tanda-tanda di sana menunjukkan akan adanya proses restore / instal ulang sistem / proses penataan ulang alam semesta.

Bencana pandemi Covic-19 adalah salah satu dari sekian banyak cara yang ditunjukkan Tuhan bagaimana perbaikan akan berlangsung di bumi ini. Polutan di bumi ini kadarnya akan semakin berkurang, hewan-hewan yang tadinya enggan masuk ke sungai-sungai di kota akan kembali berani memasukinya. Tanah-tanah yang semula hijau dan menjadi gersang akibat dirusak manusia akan menjadi hijau kembali pada saatnya. Bumi sedang diremajakan kembali, sedang di "restorasi" dan ia sedang menuju titik keseimbangannya. Segala sendi kehidupan yang carut marut akibat dikelola menggunakan sistem aturan yang "corrupt", tidak mencerminkan keadilan dan keseimbangan dengan pelan tapi pasti akan di restorasi / dikembalikan kepada sistem-Nya agar kehidupan bumi beserta seluruh makhluk-makhluk di dalamnya berjalan normal kembali.

Namun proses untuk menuju ke sana tentu bukan merupakan kejadian yang sebentar dan sederhana. Sebagaimana proses reset gadget atau install ulang komputer, pasti akan selalu  menyebabkan adanya data-data atau konten yang lost atau terhapus. Begitu juga dengan proses restore/tata ulang bumi ini, tentu akan banyak manusia yang menjadi korban karena berbagai macam bencana termasuk wabah Corona ini. Ini adalah kabar buruk yang menyedihkan di balik berita gembira bahwa bumi ini akan kembali ke titik mizannya atau kondisi fresh kembali. Di sinilah seleksi alam terjadi. Ketika komputer/gadget direset, tentu ada saja konten-konten yang diselamatkan oleh Pemilik komputer/gadget tersebut yang mana merupakan file-file dan software-software yang sesuai dengan kehendak Si pemilik komputer/gadget yaitu yang kompatible dan tidak merusak sistem di perangkat tersebut serta bersih (bebas dari virus).

Pada proses ini Sang Pemilik alam semesta tentu akan menyelamatkan penghuni-penghuni yang dipilihnya karena mereka ibarat konten-konten dalam gadget yang mau masih bisa dibersihkan dan jalan hidupnya tidak melawan konsep dasar-Nya. Ini menjadi hak prerogatif Tuhan bagaimana dia akan memilih-milih dan memilah-milah mana yang dianggap layak.

Sampai di sini, kita sebagai penghuni-penghuni bumi tentunya menginginkan keselamatan, maka secara sederhana upaya yang kita lakukan adalah berpihaklah kepada pemilik bumi dengan merestorasi ide dan pemikiran bahwa sistem aturan hidup Sang Pemilik bumi ini adalah sebaik-baik sistem. Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu (berkiblat) ke Barat (sistem kapitalisme - liberalisme) bukan pula menghadapkan wajahmu (berkiblat) ke Timur (sistem sosialisme - komunisme), tapi kebajikan adalah menghadapkan wajah kita (berkiblat) kepada sistem hidup Tu(h)an Semesta Alam, sebaik-baik pembuat aturan.

Orang-orang hanif seperti Nabi Ibrahim, Musa, Yesus, Muhammad, dan para pengikut setianya adalah contoh bagaimana menjalani hidup berdasarkan sistem hidup Bos Semesta Alam yang sudah diwahyukan. Petunjuk dari Sang Bos menjadi aplikatif dan berefek nyata pada kehidupan, dan bukan menjadi sekedar nyanyian serta khotbah belaka. Hukum-hukum, aturan-aturan diperjuangkan untuk dibumikan sehingga memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi bumi dan penghuninya.

Siapapun yang berpihak kepada Kehendak dan Rencana Tu(h)an tentu lebih berpotensi untuk selamat meskipun juga belum ada jaminan, karena tentu masih akan diuji dulu oleh Tu(h)an keikhlasan dan ketulusannya dalam merestorasi dan membersihkan pikiran kita dan mengikuti kehendak-kehendak dan rencana-Nya.

Akhir kata, semoga kita dibukakan pikiran dan diberikan kekuatan untuk bisa selalu menerima informasi-informasi dari alam sebagai sign dan petunjuk dari Sang Pemilik bumi ini dan dikuatkan pikiran dan tubuh kita untuk melewati perjalanan berat ini sesuai dengan petunjuk dan kehendak dari Sang Maha Hidup.


Posting Komentar

0 Komentar