About Me

header ads

YESUS HIJRAH - Bagian 1


YESUS HIJRAH
(Bagian pertama)



Dua periode besar perjuangan hidup orang beriman dibatasi dengan dua hijrah. Yang pertama adalah berpindah keyakinan setelah sebelumnya mengalami aufklarung spiritual. Memahami dan menyadari betul bahwa pemahaman yang diyakini selama ini salah. Itu saja sudah cukup radikal di mata orang kebanyakan. Menjadi gharib dialami semua Rasul dan para pengikut di periode ini.

Abraham dianggap menyimpang dari keyakinan tetua yang memberhalakan karya mereka sendiri. Musa mengajarkan prinsip kemerdekaan dan mempengaruhi Bani Israel untuk tidak mendua: menghamba kepada Firaun di kenyataan hidup dan kepada Yahweh ditempat ibadah. Muhammad tiba-tiba tidak lagi sembahyang di Ka’bah, tidak puasa dan haji selama lebih dari 13 tahun setelah justru mendapatkan pencerahan.

Kegemparan terjadi. Pergesekan di masyarakat tak terhindarkan ketika orang-orang beriman mulai menawarkan nyala lilin dan mengusir pola pikir musrik yang menduakan Allah. Menyadarkan khalayak bahwa mereka selama ini telah berpura-pura taat, serta merasa cukup bekal untuk masuk sorga.

Hanya mengabdi kepada satu Tuan, Allah saja. Mentaati seluruh aturan hukumnya sebagai wujud pengakuan nyata bahwa Dia Yang Maha Pengatur, bukan taat raja, kaisar, atau tuan-tuan kecil yang membuat aturan untuk kepentingan diri dan kroninya saja. Tapi itu tidak mungkin.

Herodes sang kaisar merasa terancam dengan kehadiran Yesus sebagai Mesias atau juru selamat yang dinantikan bangsa Yahudi untuk mendirikan lagi Kerajaan Allah yang runtuh di masa Zedekia.

“Satu iotapun hukum Taurat tidak akan tidak kecuali akan ditegakkan,” menjadi sabda yang mengancam. Kaisar pantas marah. Diujilah Yesus dengan keberadaan pezina. Menyadari kondisi hijrah awal, Yesus diplomatis menjawab, "hanya orang suci yang bisa menghakimi." Begitu pula ketika ditanya soal pajak, sabdanya: “berikanlah kepada kaisar haknya dan juga kepada Allah.” Mempraktekkan hukum Taurat di saat Yesus belum menjadi raja adalah mustahil.

Anak buah Herodes di Yerusalem, Pilatus, menyadari bahwa Yesus adalah orang baik, dan dengan diplomasinya, bersih di mata hukum. Semua orang tahu, di zaman kegelapan para ahli agama ikut menikmati hidangan kaisar, meninabobokan rakyat dengan dalil-dalil penghiburan sesaat; seperti candu, kata Karl Marx. “Tapi dia akan menjadi raja Yahudi!” para pemimpin agama memprovokasi. Bahkan ketika Yesus berdiplomasi bawa dia bukan siapa-siapa, demi menenangkan suasana, para tokoh yang merasa terancam tetap menginginkan supaya Yesus disingkirkan!

Kebencian kepada Yesus harus bisa diturunkan tensinya. Pilatus akhirnya mengadakan persidangan “rekayasa”. Sebagai politisi dia tidak mungkin mengabaikan desakan para tokoh agama yang selama ini membantunya di ranah keagamaan. Tapi keyakinannya bahwa Yesus orang baik, ditambah lagi mimpi istri Pilatus yang membela Yesus. Diputuskanlah bahwa penyaliban dilangsungkan pada waktu yang menguntungkan Yesus.

Kesakitan yang luar biasa dirasakan Yesus dan juga dua terpidana lain. Kaki di paku, dan juga kedua tangan. Tiga jam berlalu.

“Dengan segala kerendahan hati, saya mohon kepada tuan, agar diijinkan membawa jenazah Yesus,” kata Yusuf Arimatea.

Loh, apa mungkin Yesus mati,” Pilatus yang berpengalaman tidak yakin jika hukuman tiga jam berbuah kematian. Apalagi tanpa dipatahkan kakinya. Dia memang berharap Yesus tetap hidup karena Yesus hanya mengalami pemakuan di tiang kayu namun tidak mengalami pematahan tulang dan sumsum. Rekayasa hukuman yang cerdik, nyaris sebuah penyaliban.
***

Salib arti dasarnya adalah tulang atau sumsum. Hukuman ini adalah prosesi hukuman mati yang perlahan-lahan, dan biasanya memakan waktu sampai dengan tiga hari hingga mati. Dipaku ke dua tangannya di kayu salib saja harusnya cepat mati karena berat tubuh membuat kesulitan bernafas karena terhimpit paru-paru. Maka, untuk memperlama proses kematian, pada telapak kaki diberikan sandaran papan di kakinya dipakukan kepada papan tersebut agar kaki terhukum dapat menopang berat tubuh.

Akhir dari proses penyaliban adalah dipatahkannya tulang-tulang kaki yang mengeluarkan sumsum dan mempercepat kematian. Inilah salib, pematahan tulang dan sumsum di pancang kayu dan berakhir kematian. Dengan demikian seorang yang dihukum dengan hanya mengalami pemakuan di tiang kayu tanpa mengalami pematahan tulang dan sumsum dan mati, tidak bisa dikatakan telah dihukum salib, tetapi disebut menyerupai penyaliban.

Kiranya Pilatus secara tersembunyi menolong Yesus dengan menetapkan hari dan waktu hukuman salib pada Jum'at siang (jam 12 siang) dan pada jam 3 sore (jam 15) diturunkan dari Tiang Salib dengan kondisi tampak “Mati” (Mat. 27 : 46). Tidak disebutkan bahwa prajurit memeriksa denyut nadi atau nafas Yesus.

Terpidana lain masih nampak segar atau hidup. Dihabisilah nyawa mereka sebagai pamungkas prosesi hukuman salib, yakni dengan mematahkan tulang-tulang kaki yang menyangga tubuh. Kaki Yesus tidak, "la melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah" (Maz. 34 : 21).

Diturunkannya para terpidana dari kayu salib padahal baru 3 jam karena aturan setempat bahwa malam Sabat tidak boleh ada orang di tiang salib, "Maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam- malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah, janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milik pusakamu" (Ulangan 21:23).

Pada hari Sabat, --sore hari jam 18 setelah penyaliban sudah bukan hari Jumat-- tidak boleh ada orang di tiang salib. Tidak menunggu masuk waktu Sabat, prajurit Pilatus menurunkan Yesus dan dua pencuri terpidana dari tiang salib. Mereka bermaksud membunuh dengan memotong kaki jika belum mati. Beruntung, Yesus dalam kondisi koma, tidak sadarkan diri dan para prajurit mengira mati. Bahkan ketika seorang prajurit menusukkan tombaknya ke lambungnya, Yesus tidak bangun. Lalu Yusuf membawa badan lemas itu ke sebuah makam: ruangan seperti goa dan berpintu. Dibaringkanlah badan Yesus di sana.

Yesus menjadi koma selain karena menahan rasa sakit juga efek ramuan yang diminum sebelum peristiwa itu. Itulah sebab beliau begitu kehausan "Yesus mengatakan: "Saya haus" (Yoh. 19:28). Sudah jadi kebiasaan Yahudi, seperti yang tertulis: "Dia yang dieksekusi diberi sedikit kemenyan dicampur anggur dalam piala sehingga dia kehilangan kesadaran" (Sahn 43- Kitab Talmud). "Di situ ada suatu benda penuh vinegar asam (tertulis vinegar, bukan wine). Maka mereka mencucukan bunga karang yang telah dicelupkan dalam anggur asam pada sebatang hyssop (tanaman semak yang harum untuk obat) lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam berkatalah ia :"sudah selesai", lalu ia menundukan kepalanya dan menyerahkan nyawanya" (Yoh. 19: 29-30). Dengan dosis tertentu, siapapun bisa kehilangan kesadaran, seperti mati.

Yesus tersadar ketika tubuhnya dibalut kain kafan turin, luka-lukanya telah dibaluri salep myrr dan gaharu untuk dibalurkan ke tubuh Yesus yang terluka (Yoh. 19:39). Berkati-kati salep di bawa ke ruang makam. Belakangan, Profesor Kurt Berna menyimpulkan bahwa bahwa orang yang dibaringkan di dalam kain kafan turin tersebut tidak mati.

Minggu pagi Maria pergi ke makam tersebut. Sampai di sana melihat batu penutup ruang makam Yesus sudah bergeser ke samping, dan di dalam tidak ada mayat siapapun, hanya seorang pria berpakaian putih-putih di ruangan makam itu ( Mark. 16:1-8, Yoh. 20 : 1-2).

Obat mujarab dan terkenal di jaman itu, berfungsi. Meski belum sembuh betul, Yesus dapat bangkit dan pergi keluar.
“Damai sejahtera bagi kalian!” kata Yesus.
Murid-murid terkejut bukan main ketika melihat sosok Yesus berdiri di hadapan mereka. Menyangka hantu.
“Kenapa kalian terkejut dan ragu? Lihatlah tangan dan kakiku. Ini aku. Raba dan lihatlah, karena hantu tidak berdaging dan bertulang seperti ini.”
Murid-murid masih belum percaya dengan sosok di depan mereka.
“Apa ada makanan di sini?” Tanya Yesus. Merekapun memberikan sepotong ikan goreng. Yesus mengambil dan memakannya.
“Sudah kukatakan dulu, bahwa aku harus menggenapi kitab Taurat dan kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur" ( Luk. 24:36-44).
Sebelum peristiwa di atas, Yesus juga menginap di rumah warga ( Luk.24:29).
Cerita yang menyejarah itu masuk di akal. Akan menjadi lain andai tercatat: “Tolong lepaskan! Aku Yudas. Kalian salah tangkap. Aku Yudas Iskariot!!!”





Posting Komentar

1 Komentar